ali's Corner

ali's posts with tag: indonesia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag indonesia
Blog EntrySebuah Kado Buat IbuJan 13, '08 2:53 AM
for everyone

Profesionalisme dalam Rumah Tangga

(Sebuah Kado Pemikiran buat Ibu)

Kata ibu sebagaimana kita ketahui bersama memiliki arti yang sangat suci dan mulia. Suci secara sifatnya dan mulia secara sikapnya. Islam sendiri menyatakan Ibu adalah tempat para manusia mencari surga. Ibu memiliki makna yang kompleks. Manajerialnya tidak mampu diurai oleh ilmu manapun, dan kebaikan serta kesabarannya tidak mampu diformulakan dengan rumus apapun. Fungsinya tidak terangkum dalam fungsi manajemen. Ibu bukan hanya baby factory, ibu bukan hanya koki, dan ibu bukan hanya mesin cuci. Ibu adalah sebuah sosok yang dalam keperkasaan menyimpan untaian kelembutan, dalam ketegasan menunjukkan kebijaksanaan. Kemuliaan.menempatkan posisinya langsung setelah Allah dan Rasul-Nya. Bukan karena dia perempuan, tapi karena dia adalah memang seorang ibu.

 

Semua bangsa yang terangkum dalam berbagai negara mencoba untuk menggambarkan sebuah penghormatan kepada Ibu dengan merayakan atau menetapkan Hari Ibu, walaupun dengan cara dan tanggal yang berbeda. Hari ibu di Indonesia dinyatakan pada tanggal 22 Desember tiap tahunnya, yang menurut sejarah dikarenakan pada hari itu untuk pertama kalinya kongres perempuan se-Indonesia diadakan.

 

Sejak tahun 1950, dimana Maria Ulfah menjadi menteri untuk pertama kali, perempuan berusaha menjadi/ ikut menjadi bagian daripada pembangunan. Dengan berbagai kemampuan dan kesempatan para “kaum tulang rusuknya Adam” ini mencoba untuk menunjukkan eksistensinya. Dengan kata lain perjuangan persamaan dan peningkatan mutu Jender selalu didengungkan.

 

Tidak ada yang salah dengan rangkaian kata “Persamaan Jender”. Tapi sepertinya bangsa kita sedang ada dalam masalah moral. Kedua kalimat di atas tidak ada hubungannya Dan memang belum ada satu kajian ilmiah pun (belum pernah saya baca) yang mencoba menghubungkan antara partisipasi jender dengan kondisi moral bangsa. Tapi sering kita baca bahwasanya terjadinya degradasi moral adalah diakibatkan oleh buruknya pendidikan dalam rumah tangga. Kurangnya perhatian orang tua, anak yang ditinggal cerai oleh kedua orang tua, dan masih banyak contoh lainnya mengenai buruknya mutu moral (mental spiritual) anak akibat buruknya mutu hubungan antar ayah dan ibu..

 

Tidak salah kita merujuk pada kata orang bijak; pada seorang ibu, semua kita menaruh harapan untuk masa depan dan sejarah. Namun, bagaimanapun tingginya posisi seorang ibu dimata Tuhan (Agama) tetap saja peminat tulus untuk menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) kian hari kian menurun. Perempuan lebih senang untuk meniti karir umum dan sekolah setinggi-tingginya demi mengejar persamaan jender. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan persamaan jender. Yang menjadi masalah adalah, mengapa menjadi IRT tidak masuk dalam salah satu kategori wanita karir? Apakah karena IRT tidak masuk dalam daftar pekerjaan yang diakui oleh Dinas Tenaga Kerja? Apakah karena IRT tidak disebutkan Upah Minimum Rata-Rata (UMR)nya?

 

Jarang sekali dalam kehidupan modern kita sekarang ini yang memberikan penghargaan tinggi untuk para IRT (di luar perayaan hari Ibu). Bahkan sekarang profesi menjadi seorang IRT menjadi sangat kurang diminati. Para perempuan lebih memilih mencari profesi sampingan atau bahkan memilih untuk meninggalkan profesi IRT secara seutuhnya. Salah siapa? Jangan salahkan siapa-siapa, karena ini adalah salah kita! Menurut kita, IRT adalah pekerjaan yang membosankan, rutin dan minim penghargaan (pengakuan). Langka kita menemukan penghargaan kepada IRT yang mampu mendidik dan membesarkan anaknya sampai selesai masa wajib belajar sembilan tahun. Tidak pernah kita mendengar seorang IRT mendapat gelar Master dalam mengatur keuangang keluarga. Kenapa? Karena kita selalu berfikir IRT adalah Istri. Kita selalu memandang kata Istri menjadi rendah, karena istri adalah bawahan suami. Suami yang hebat adalah suami yang tak terbantahkan, selalu benar, dan berkuasa penuh. Sebuah penafsiran suami yang salah. Tapi apa mau dikata, pemahaman-pemahaman seperti ini sudah melekat kuat dalam pikiran masyarakat kita.

 

Mari kita sedikit agak nyeleneh. Maap bukan bermaksud untuk menghina agama ataupun merendahkan makna. Tapi tidak ada salahnya kita berimajinasi sedikit keluar dari kebiasaan. Bagaimana kalau pada suatu hari kita baca dikoran; DIBUTUHKAN SEORANG IBU RUMAH TANGGA. Dengan Kriteria: 1. Pendidikan Terakhir Magister IRT (Lampirkan Ijazah dan Transkrip Nilai), 2. Berpenampilan Dan Bertingkah Laku Islami (Dibuktikan Dengan Surat Rekomendasi Orang Tua Dan Imam Mesjid), 3. Sehat Jasmani dan Rohani (Surat Keterangan Pemeriksaan Kesehatan Lengkap), 4.. Diutamakan Bagi yang Belum Pernah Berkeluarga, 5. Siap Diajak Kemana Saja. Dan Bagi yang lulus seleksi akan diterima dengan kontrak atas nama Allah di hadapan penghulu untuk masa kerja selamanya. Penerimaan Terakhir pada tanggal dd bulan mm tahun yyyy .

 

Pernah kaum Lelaki membayangkan untuk melakukan hal di atas? Atau pernah kaum Perempuan membayangkan membaca pengumuman di atas? Pasti kita akan terdiam dan bingung. Mungkin juga marah atau ketawa-ketawa sendiri. Inilah dunia baru bagi profesiaalisme dalam keluarga. Masih dalam rangka contoh di atas, suami akan menjadi stakeholder (pemilik), istri menjadi manager, anak-anak (kalau ada) menjadi karyawan yang gajinya adalah kasih sayang dan biaya hidup, serta rumah tangga menjadi organisasinya. Manager layak digaji dengan materi (uang, emas, perhiasan, dll) dan digaji dengan bathin (lemah lembut, penyayang, hubungan yang baik, dll). Stakeholder punya kewenangan untuk meng-evaluasi kinerja dan memberikan masukan terhadap metode manajemen yang sedang diterapkan oleh manager. Semua aktifitas terencana dan tercatat, setiap tindakan atau kebijakan disepakati bersama dan dicatat sebagai memorandum, serta merumuskan visi, misi, progam, kegiatan, dan indikator pencapaian kerja dalam keluarga.

 

Mengapa tidak? Apapun yang disebutkan di atas. Kita akui atau tidak, baik dengan diam atau marah-marah, kita (bagi yang sudah berkeluarga) telah melaluinya. Hanya saja bahasa yang berbeda, tapi makna yang terjadi persis sama. Kalau hal di atas benar-benar kita pahami dan benar-benar terjadi. IRT akan merasakan manfaat yang luar biasa, duniawi dan ukhrawi. Badan Koordinator Kelurga Berencana Negara (BKKBN) bisa menggunakan dana-dana penyuluhan yang selama ini untuk program menurunkan angka pertumbuhan penduduk, dengan memberikan penghargaan kepada IRT yang mampu mencapai target-target tertentu. Penghargaan bisa berupa uang atau bahkan liburan ke luar negeri. Dan juga mengundang manager-manager rumah tangga (IRT) yang sukses untuk memberikan seminar-seminar tentang manajemen rumah tangga. Intinya, membantu menciptakan IRT-IRT yang bermutu dan berilmu pengetahuan dalam bidang rumah tangga.

 

Menteri Pemberdayaan Perempuan, melalui universitas-universitas di tanah air, membuka sebuah fakultas untuk IRT. Dan mempersiapkan gelar-gelar kebesaran akademis sepert S.IRT (Sarjana Ibu Rumah Tangga), M.IRT untuk Master, bahkan Doktor dan Professor. Yang tentunya semakin tinggi gelar ini didapat maka semakin besar kompensasi duniawi yang harus didapat dari stakeholder dan masyarakat. Seperti misalnya yang mendapat gelar Doktor dan Professsor berhak terhadap dana pensiun dan jaminan kesehatan kelas I selama sisa hidupnya.

Apabila seluruh IRT di Indonesia tidak mencoba untuk mencari pekerjaan alternatif karena sudah terpuaskan secara kedudukan dan materi, maka Ibu bisa optimal memberikan waktu dan ilmunya untuk tunas bangsa dan agama. Apabila tunas-tunas ini tumbuh dengan sempurna maka tentunya ia akan bermanfaat pula.

 

Mari Ibu, ciptakan dunia sendiri. Jangan ikuti kaum lelaki, karena kita tercipta dalam beda untuk terus berkarya demi bangsa dan agama yang dalam perbedaan juga. Selamat berpikir!

 

Penulis adalah penggagas dan pendiri Institute of Tseumikee


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help